Feeds:
Posts
Comments

Salam Buruh….. !

Negara tercinta kita Indonesia adalah Negara kaya, tapi ironisnya kehidupan kita sebagai buruh yang nota bene adalah warga Negara Indonesia dan pembayar pajak semakin terpinggirkan dan terasing di tanah air kita sendiri. Kebijakan pemerintah yang condong tidak melihat kehidupan para buruh dan ditambah lagi system birokrasi berbelit-belit yang parah, praktek korup di institusi Negara yang mulia. Membuat kita semakin terprosok kedalam lembah “kemiskinan turunan” penyebabnya hanya satu “pemerintah kurang melihat kehidupan kita”. Banyak permasalahan yang timbul di kehidupan para buruh, entah buruh sebagai buruh pabrik dan buruh laut.

Berikut beberapa permasalahan buruh laut : Perjanjian Kerja Laut yang diterbitkan oleh 2 intansi yang berwenang di laut ( Administrator Pelabuhan dan Syahbandar Perikanan ).

Hal tersebut bukannya mempermudah tapi mempersulit para pekerja laut, hal ini menuai kecaman dan kecurigaan dari parah buruh se-Indonesia. Kenapa tidak, kuat dugaan pemerintah sengaja membuat peraturan-peraturan yang membingungkan para buruh untuk mengeruk keuntungan dari kebingungan para buruh laut tersebut. Seharusnya permasalahan buruh mengenai hak dan kewajiban ditangani dinas yang khusus menangani masalah perburuan dan janganlah membuat kami semakin sulit dengan perang kepentingan anda-anda kaum berdasi yang bisa ongkang kaki disaat buruh menjerit.

Pemerintahan sekarang GAGAL dalam permasalahan perburuan. Terbukti timbulnya peraturan atau perundang-undangan yang tumpang tindih yang tidak pro buruh atau pekerja. Undang-Undang RI No.45 Tahun 2009 Tentang PERIKANAN, Undang-Undang RI No.17 Tahun 2008 Tentang PELAYARAN, Undang-Undang RI No. 13 Tahun 2003 Tentang KETENAGAKERJAAN, dan lain – lainnnya yang masing-masing memuat permasalahan buruh dan penanganannya ditangani di setiap institusi masing-masing membuat pusing para buruh itu sendiri.

Sekarang kita sebagai buruh hanya bisa menahan napas karena perundang-undangan yang berbelit-belit dan terlihat saling mencari keuntungan dari peluh darah kita. Mungkinkah masih ada yang peduli dengan teriakan kita ?

Bukan hanya buruh yang bisa berteriak, para pengusaha perikanan juga merasakan system kepentingan dalam institusi Negara kita yang kacau. Mulai dari penerapan Surat Ijin Berlayar ( SIB ) yang dikeluarkan oleh 2 instansi sekaligus. Sungguh membuat para pengusaha kebingungan dalam mengurus dokumen perkapalan yang jelas mempengaruhi kehidupan para buruh laut. Dalam hati kecil sebagai pengusaha terkadang melontarkan kata “ Maunya Pemerintah Apa Sih !!! “

Sistem yang kacau dan penuh dengan perang kepentingan tersebut diperparah lagi dengan pelayanan dari instansi yang tidak memadai dan penuh dengan praktek “ kantong belakang “ membuat pengusaha harus tertawa sinis dengan apa yang telah terjadi. Belum lagi dengan permasalahan patroli laut. Masing – masing institusi Negara memasang unit patroli yang saling bergantian menempel dilambung kapal. Alasan klasik pun keluar dari mulut petugas dari berbagai institusi. Sah – sah saja jikalau setiap institusi sadar dengan wilayah kerjanya. Tapi sekarang jangankan kata maaf, senyumpun terasa mahal.

Masih banyak permasalahan buruh laut yang tidak tersirat dalam refleksi May Day ini, tapi guna apa jika tersirat sedangkan permasalahan diataspun tidak bisa pemerintah tangani. Haruskah kita turun kejalan untuk mengexpresikan kekesalan ini….?

Salam Buruh !!

Federasi Buruh Pelabuhan, Pelaut Dan Nelayan

SERIKAT BURUH SEJAHTERA INDONESIA KOTA BITUNG

Rocky Oroh

RINTIHAN BALITA PENGIDAP HIDROCEPHALUS
Bitung, 13 Maret 2010
Pantau Sulut. Hidup serba kekurangan membuat seorang balita harus menahan sakit berkepanjangan. Kehidupan pas-pasan dan himpitan perekonomian membuat Ibu Memik harus rela melihat buah hatinya terbaring sambil menahan sakit.
Maura lumakeki, balita perempuan berasal dari Kelurahan Wangurer Timur, Kecamatan Madidir, Kota Bitung, Sulawesi Utara. Umur yang masih dikatogorikan Balita Dibawah Lima Tahun ( Balita ) yang sakit diakibatkan pembengkakan kepala ( Hidrocepalus) yang berasal dari kotoran binatang ( Toxoplasma ). Terbaring sambil menangis karena menahan sakit, yang diakibatkan oleh dua buah luka yang menganga di bagian belakang kepala.
Derita yang berkepanjang dirasakan Maura, sejak dilahirkan sampai sekarang membuat Ibunda Memik Manusama (24), harus menempuh beberapa cara untuk menyembuhkan si buah hati.
Sakit yang dimulai pada usia empat hari. Berawal dari demam tinggi yang disertai dengan kejang-kejang membuat Ibunda Maura harus
membawa sibuah hati berobat di RS. Budi Mulia Kota Bitung, demam yang disertai kejang-kejang tak kunjung mereda membuat pihak rumah sakit merujuk Maura ke Rumah Sakit Kandou Manado yang memiliki teknologi kedokteran yang terkemuka di Propinsi Sulawesi Utara. Walau sudah berobat ke rumah sakit terkemuka keluarga Maura harus rela menghadapi kenyataan. Maura harus di operasi dan biaya yang harus dikeluarkan begitu besar.
Karena desakan biaya membuat Ibunda Maura yang hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga, harus rela membawa sibuah hati pulang kerumah bersama-sama sang ayah ( Delvis Lumakeki/ 49 tahun ) yang hanya bekerja sebagai seorang sopir tangki.
“ Saya sudah berupaya merawat Maura di Rumah Sakit. Tapi, biaya yang harus kami sediakan begitu besar “. Tuturnya lirih.
Kakek Maura, Demmysius Manusama (49 tahun) hanya bisa merenung dengan derita cucu kedua dari pasangan Delvis dan Memik (Ayah dan Ibu Maura). Kini sang kakek hanya bisa berkeluh kesah karena sudah beberapa kali pihak Kelurahan dan DINAS Sosial Kota Bitung berkunjung kerumahnya untuk melihat derita Maura dan sampai sekarang tidak ada berita gembira yang dapat diharapkan.
Menurud, dr. Harjono Budiono (Spesialis Anak) yang selama ini menangani keluhan Maura.
“ Maura mengalami pembengkakan di kepala disebabkan banyak cairan yang terkumpul dibagian kepala, dia harus segera dioperasi sebelum terlambat “ ungkap Budiono.
Kini Maura balita perempuan pengidap Hidrocepalus, dengan beban dikepala yang begitu berat hanya bisa menangis sambil dibelai sang Ibunda yang senantiasa menjaga sibuah hati. Ibunda Maura, Memik Manusama hanya bisa berharap ada dermawan yang dapat membantu keluarga mereka. Meringankan derita si buah hati yang kini kepalanya kian hari kian membesar. (Rocky Oroh).

PANTAU KOTAMOBAGU
WARGA NUANGAN TERSERANG GATAL-GATAL
Kotamobagu, Tribun. Dinas Kesehatan (DINKES) Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) belum dapat memastikan kasus gatal-gatal yang menyerang sebagian warga Kecamatan Nuangan akibat dari aktivitas pertambangan. Kepala DISKES BOLTIM Dr. Jusnan .C. Mokoginta MARS, Kamis (11/3) mengatakan, tim kesehatan telah meninjau langsung kondisi lapangan serta memeriksa sejumlah warga yang dikabarkan menderita penyakit kulit akibat tambang.
“ Kami sudah turun ke Nuangan kemarin (Rabu) bekerjasama dengan Puskesmas Nuangan. Hasil yang kami peroleh, belum terdapat kasus gatal-gatal yang menonjol. Ada beberapa kasus gatal-gatal ringan dan kami akan periksa lebih lanjut untuk mencari tahu penyebabnya “ kata dia kepada Tribun Manado, Kamis (11/3).
Sejumlah warga sekitar Nuangan dilaporkan menderita gangguan kulit. Kuat dugaan, penyakit kulit tersebut berasal dari limbah tambang emas tradisional yang mencemari sumber air warga. Namun, dari hasil pengecekan lapangan Dinkes sementara, penyakit yang diderita warga bukan dari hasil penambangan tersebut. Ditambahkan Jusnan, kesimpulan awal itu diperkuat dengan laporan Kepala Puskesmas Nuangan Ahmad Mulyono yang menyebutkan, kasus gatal-gatal di Nuangan tidak mengalami peningkatan signifikan sejak Januari hingga Febuari silam.
“ Kami telah mengadakan penyuluhan kepada masyarakat. Bila ada kasus gatal-gatal dan dicurigai oleh karena limbah tambang, warga segera datang berobat ke dokter Puskesmas “ katanya. (Max)

Sumber : TRIBUN MANADO/039/II

PANTAU AMURANG
70 KEPSEK MULAI DIPERIKSA

• Terkait Dugaan Penyelewengan DAK 2007
• Mantan Kadiknas Akan Dimintai Keterangan

AMURANG,TRIBUN. Pengusutan kasus dugaan penyalahgunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) 2007, di Dinas Pendidikan dan Olahraga (Dispora) Minahasa Selatan (Minsel) akan ditingkatkan ketahap penyelidikan. Pantauan Tribun Manado, Kamis (11/3) lima Kepala Sekolah (Kepsek) mendatangi kantor Kejaksaan Negeri (Kejari). Dua diantaranya Kepsek tersebut berada diruangan Kasie Intel Jhonson Sengkey SH. Hanya saja, saat dikonfirmasi, Sengkey, meyarankan agar langsung menanyakan ke Kajari Amurang, Supriyanto SH.MH
“ Langsung saja konfirmasi sama Pak Kajari “ ujarnya lagi.
Sedangkan Supriyanto, yang mengaku berada di Manado, ketika dihubungi, mengatakan, beberapa stafnya memang benar telah memanggil sejumlah Kepsek penerima DAK 2007, untuk dimintai keternagan.
“ Saat ini kami memang mulai memanggil mereka. Seluruh Kepsek penerima dana yang berjumlah 70 orang akan kami panggil “ ujar Kajati Amurang ini.
Dia menambahkan, untuk kisaran penerima DAK 2007 di setiap sekolah berbeda-beda. “ Setiap sekolah besaran dana DAK yang mereka terima berbeda-beda “ ujarnya mengakhiri pembicaraan. Seperti pernah diberitakan dugaan penyalahgunaan DAK 2007, merupakan penyelidikan dari Kajari Amurang, yang sekarang prosesnya sudah dinaikkan ketingkat penyelidikan. Supriyanto, juga mengatakan, prosesnya sudah dinaikkan ketingkat penyelidikan, kalau memang diperlukan keterangannya maka semua Kepsek penerima akan dipanggil untuk dimintai keterangan. Begitu juga dengan mantan Kadis Diknas saat itu, Jhony Lamia, bisa saja dimintai keterangan.Ketika ditanya berapa kerugian Negara atas kasus ini. Dia mengaku, belum mengtahui secara pasti, karena itu mereka masih akan mencari tahu.
“ Berapa dana yang diselewengkan, itu kan yang sekarang kami mau mencari tahu “ ujarnya lagi. (vid)

Sumber : TRIBUN MANADO/039/II

PANTAU BITUNG
PATHEMAANG RAYA PHK KARYAWAN
• Henok Tuntut Keadilan Dari Perusahaan

Story Highlights
• Selama 11 tahun mengabdi di perusahaan tersebut
• Henok hanya mendapat pemberitahuan secara lisan
• Tidak menerima pesangon dari perusahaan

Bitung, Tribun. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak ternyata masih berlangsung di Kota Bitung. Kali ini terungkap Henok Adilis (49) warga Lingkungan 19 Kelurahan Tandurusa di PHK sepihak oleh PT. Pathemaang Raya. Menurut Henok, pemecatan dirinya hanya melalui lisan tanpa ada surat PHK.
“ Pemutusannya lisan. Hanya diberitahu kamu sudah diberhentikan. Saya mau tuntut keadilan disini, sudah 11 tahun saya bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK) diperusahaan itu. Hanya diberhentikan begitu saja “ kata Henok pada Tribun Manado, Kamis (11/3).
Ia menuturkan setelah sekian lama ia bekerja pada bulan November 2009, Henok jatuh sakit dan dirawat di RS. Budi Mulia selama dua minggu. Setelah sembuh, ia keperusahaan tempat bekerja untuk menanyakan gaji namun rupanya sudah diberhentikan.
“ Saya tidak buat surat pengunduran diri. Saya tidak mendapatkan surat PHK hanya lisan saja. Saat keperusahaan untuk tanyakan gaji, saya langsung diberikan buku pelaut punya saya saja “ ujarnya.
Henok meminta keadilan karena menurutnya sudah lama bekerja dengan baik-baik di Pathemaang Raya namun diputuskan begitu saja tanpa ada gaji dan pesangon yang diterimanya.
Ditempat terpisah, pihak PT.Pathemaang Raya saat dikonfirmasi terkesan tidak peduli dengan masalah pemecatan tersebut. Kepala Operasional PT.Phatemaang Raya, Febi balik meminta Koran ini bertanya kepada Henok.
“ Tanya sama dia, kita tidak tahu tentang itu, no comment “ ucap Febi lalu berdiri menuju ruangannya. (def)

Sumber : TRIBUN MANADO/039/II

SHS : Pemprov Akan Jemput Mereka
• Pemulangan 23 korban Trafficking di Papua
• Polisi tangkap Perekrut Gadis di Bitung
Manado, Tribun. Kesulitan Kepolisian Daerah (Polda) Sulut memulangkan 23 gadis asal Manado di Jayapura, Papua, yang menjadi korban bisnis penjualan manusia (human trafficking), mendapat perhatian Gubernur Sulut Sinyo Harry Satundajang (SHS). SHS menyatakan Pemprov siap menjemput 23 gadis asal Sulut yang selama ini dipekerjakan sebagai wanita pendamping, pelayan bar, hingga pekerja seks komersil di Blue Diamond Café, dikawasan Tanah Hitam Café, Papua.
“ Bila perlu, Pemprov akan menjemput mereka agar bisa pulang” ujar Gubernur SHS, Selasa (9/3).
Diakuinya, belum ada pembahasan serius dilingkungan Pemprov Sulut terkait penanganan bagi 23 warga Sulut ini. Namun, tegas SHS, kasus ini akan ditangani serius hingga tuntas.
“ Sampai sekarang memang belum ada permintaan bantuan yang saya terima. Pastinya, akan kami tangani bila memang ada permintaan” ujarnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Kepolisian Daerah (Polda) Sulut mengalami kendala memulangkan 23 gadis tersebut. Keberadaan puluhan gadis asal Sulut ini terungkap pasca terbongkarnya kasus trafficking kakak adik, OM(23) dan CA(15) warga Kelurahan Mapanget Barat, Kecamatan Mapanget, Manado. Saat ini, para gadis tersebut masih bekerja seperti biasa di Blue Diamond Café untuk mempertahankan hidup. Untuk kembali ke Manado, sulit bagi mereka. Disamping tak punya tabungan, mereka diawasi oleh orang-orang kafe.
Di Bitung, Polresta Bitung kemarin meringkus Steven Dauuda, warga Bitung yang menjadi tersangka kasus trafficking. Steven ditangkap tak jauh dari rumahnya, kampung Kusu-kusu, Kelurahan Bitung Barat II, Kecamatan Maesa, Kota Bitung.
“ Kami sudah lama mengikuti tersangka ini, namun tersangka ini selalu lihai sekali untuk menghindar dari kejaran polisi. Kadang kala kita kesulitan karena lincahnya dia untuk selalu menghindar dari pantauan penyidik “ kata Kasat Reskrim Polresta Bitung, AKP. Samuel Kayangan SH.
Steven dituduh sebagai pencari wanita yang akan dipekerjakan di Cafe Papua milik Abu Bakar. Abu Bakar yang sudah lebih dahulu ditahan memberikan uang tunai sebesar 6 juta kepada empat orang korbannya yang masih dibawah umur.
“ Tersangka ini adalah yang berperan sebagai rekruitmen dan bahkan mengantar samai ketujuan daerah Timika di Papua. Kami sedang melakukan pemeriksaan terhadap tersangka untuk mencari bukti-bukti dalam hal ini unsur-unsur pasal yang ditetapkan “ ujar Samuel.
Modus yang dilakukan Steven adalah mencari wanita yang masih dibawah umur kemudian membujuknya dan merayunya untuk bekerja didaerah lain dengan mengiming-imingi gaji yang besar. Namun setelah bekerja didaerah Papua, ternyata gaji yang diperoleh korban ini tidak sesuai dengan perjanjiannya.
“ Tersangka mengatakan baru kali ini menjalankan profesinya sebagai perekrut gadis yang masih dibawah umur. Tapi kami tidak langsung percaya dengan keterangannya, tetapi kami kembangkan jangan sampai sudah berulang-ulang kali namun tidak ketahuan, jadi kami tetap akan lanjutkan pemeriksaannya” ucapnya.
Samuel menambahkan Steven bisa bertugas sebagai perekrut dan pengantar karena kedua orangtuanya rupanya telah berdomisili di Papua. Steven dijerat dengan Undang-Undang Trafficking pasal 2 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan ancaman penjara diatas lima tahun.
“ Masalah trafficking merupakan target yang perlu diberantas supaya wanita-wanita yang ada di Sulut ini tidak menjadi korban perbudakan, baik kekerasan seksual maupun kekerasan lainnya” tegas Samuel. (def/gbu).

Sumber : TRIBUN MANADO/037/II

POLRES Temukan Proyek Bermasalah di SITARO
POSKO TAHUNA. Setelah melakukan penyelidikan secara maraton di Kabupaten Sitaro, Polres Sangihe menemukan adanya dugaan proyek bermasalah atau belum selesai diwilayah Kabupaten Kepulauan Siau, Tagulandang, Biaro (Sitaro) tahun 2007-2008. Temuan penyimpangan itu dilakukan Polres Sangihe dengan mengembangkan kasus ini lewat tim penyidik yang mengumpulkan data dan keterangan secara langsung dilapangan. Kapolres Sangihe AKBP Agung Julianto SIK.MSi lewat Kasat Reskrim AKP Raindra Ramandhan Syah SIK kepada wartawan menyatakan bahwa saat tim penyidik sementara focus penyelidikan ke beberapa proyek jalan yang ada diwilayah Sitaro.
“Keterangan yang dikumpulkan ikut memperhatikan adanya terapan tagihan ganti rugi (TGR) sesuai jumlah nominal rupiah proyek dimaksud ” tegas Kasat ReskrimAKP Raindra Ramandhan Syah SIK.
Sambil menjelaskan bahwa semua proyek di Sitaro telah melakukan pembayaran oleh instansi pengelola keuangan Pemerintahan Kabupaten Sangihe sebesar 100 persen. (702)

Sumber : POSKO MANADO/2739

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.